Langsung ke konten utama

Ekonomi Digital, Sahabat Kita dari Masa Depan


“Mas, tolong ditotal harga semua desainnya ya.” chat salah seorang pelanggan saya via whatsapp.
“Oke siap, Pak” jawab saya.
Segera saya kalkulasikan harga untuk jasa desain flyer dan brosur pesanan pelanggan saya itu, lalu saya infokan lewat chat whatsapp. Setelah itu, saya letakkan smartphone saya ke meja sambil mengembangkan senyum di wajah. Lega rasanya hati ini mendapatkan pesan chat tersebut. Kenapa? Karena pelanggan ini adalah pelanggan tetap saya yang selalu memesan kebutuhan desainnya pada saya. Sudah biasa kalau dia mengirim pesan tersebut, pasti hari itu juga bayaran akan masuk ke rekening. Setelah berhari-hari rekening saya ketularan penyakit kanker alias kantong kering, akhirnya kehujanan rezeki juga, hehe...
Singkatnya, saat ini saya sering mengerjakan pesanan desain grafis secara freelance sebagai sambilan di samping rutinitas saya sebagai mahasiswa semester akhir. Kalau kata saya sih, mahasiswa zaman now harus pintar-pintar cari tambahan pemasukan. Apalagi yang anak rantau kayak saya yang numpang di rumah om di Semarang. Karena itu, saya coba peruntungan menjadi desainer grafis freelance dengan cuma modal laptop dan kreativitas. Walaupun hasil desain saya masih bisa dibilang amatiran, tapi selama pelanggan puas sih, tentu tidak jadi masalah bukan? Toh, saya juga memasang tarif yang cukup murah. Buktinya saya sudah punya pelanggan tetap.


Sumber: Dokumen Pribadi

Begitu saya jalani, kerja freelance itu ada enaknya dan ada ga enaknya. Ga enaknya itu kalau kerjaan belum selesai, udah dikejar deadline. Kalau enaknya sih, kerjaannya lebih bebas dan fleksibel. Bisa saya kerjakan di mana saja dan kapan saja saya mau. Selain itu, saya tidak perlu repot-repot ketemuan sama pelanggan saya. Sampai saat ini, saya belum pernah sekali pun bertatap muka langsung dengan semua pelanggan saya. Termasuk dengan pelanggan tetap saya. Dia berdomisili di Jakarta Pusat sedangkan saya saat ini tinggal di Semarang. Kami selalu berkomunikasi melalui aplikasi whatsapp. File hasil desain saya kirimkan lewat email. Apabila desain sudah fix, bayaran akan ditransfer ke rekening saya. Seluruh proses itu dilakukan dengan media digital. Jadi, inilah yang dinamakan ekonomi digital. Tidak perlu saling bertemu, tidak terbatas oleh jarak yang jauh, dan semua itu dilakukan secara real time pada saat itu juga. Itulah hebatnya ekonomi digital.
Suatu waktu, salah satu pelanggan saya juga pernah meminta saya untuk mengirim file hasil desain ke email sebuah usaha percetakan. Dia bilang kalau percetakan ini menerima file desain melalui email dan akan langsung dicetak setelah biaya cetaknya ditransfer. Begitu selesai, hasilnya akan dikirim dengan menggunakan jasa pengiriman ke alamat pelanggan. Jadi, kita tidak perlu repot bolak balik ke tempat percetakan. Wah, inilah salah satu contoh ekonomi digital yang sangat membantu dan memudahkan kita.

Ekonomi Digital Memudahkan Hidup
Bayaran hasil kerja sampingan saya yang berada di rekening bank biasanya saya masukkan ke saldo akun ojek online. Pasalnya, saya berangkat kuliah setiap hari menggunakan jasa ojek online untuk perjalanan dari rumah sampai terminal, dan sebaliknya pada saat pulang. Maklum saja karena di jalan depan rumah tidak ada angkot lewat ataupun pangkalan ojek konvensional. Selain itu, saya juga bisa dapat banyak promo dari aplikasi ojek online, bahkan sering juga dapat gratisan.
Dari terminal, saya berangkat ke kampus dengan menaiki bus Trans Semarang. Enaknya naik bus Trans Semarang itu harganya murah. Cukup sekali beli tiket, kita bisa jalan-jalan dan berkeliling Kota Semarang. Tarif pembelian tiketnya sendiri ada tiga macam, yaitu tarif umum sebesar Rp 3.500, tarif pelajar sebesar Rp 1.000, dan tarif mahasiswa sebesar Rp 1.000. Nah, berhubung saya mahasiswa, ya saya pakai tarif mahasiswa dong. Dengan menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), saya hanya perlu membayar Rp 1.000 untuk sampai ke kampus.

Sumber: Dokumen Pribadi

Enaknya lagi, sekarang saya bisa menggunakan saldo akun ojek online saya untuk membeli tiket bus Trans Semarang. Caranya yaitu dengan menscan QR Code melalui aplikasi ojek online yang ada di smartphone. Secara otomatis, saldo akun ojek online saya akan terpotong Rp 1.000. Jadi tidak perlu keluar uang tunai lagi. Apalagi ada promo cashbacknya juga lho.

Sumber: Dokumen Pribadi

Ekonomi Digital untuk Semua Kalangan
Pada saat libur semesteran dan libur lebaran, saya pasti pulang ke kampung halaman saya di Pekalongan. Biasanya saya naik kereta api karena waktu tempuhnya paling cepat. Harga tiketnya antara Rp 40.000 dan Rp 45.000 untuk kelas ekonomi. Saya beli di toko online dengan saldo yang saya ambil dari rekening. Setelah sampai di Stasiun Pekalongan, saya segera mengorder ojek online untuk bisa sampai di rumah. Kalau pakai saldo di aplikasi, saya cuma perlu membayar Rp 4.000. Jadi pulang kampung pun saya tidak perlu menyelipkan uang tunai di dompet.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Pekalongan

Suatu ketika, waktu saya liburan di rumah, tetangga saya bercerita pada saya bahwa anaknya yang sekarang kelas 3 SMA itu ikut kursus online. "Kelas tiga itu paling repot deh. Belum harus persiapan ujian nasional, harus persiapan tes masuk perguruan tinggi juga." kata tetangga saya. Singkat cerita, anaknya itu mencoba untuk ikut kursus online. Katanya itu lebih praktis dan lebih murah daripada kursus biasa.
Setelah transfer biaya kursus, anak tetangga saya ini pun bisa langsung mengikuti kursus dari mata pelajaran apapun yang ia mau secara online. Cuma dengan duduk di depan komputer saja lho. Ya iya sih, namanya juga kursus online. Tapi saya lihat tutornya pun tidak sembarangan. Rata-rata lulusan S2 malah. Tetangga saya pun berkomentar "Sekarang semua serba online. Kursus aja ada yang online. Jadi serba gampang ya". Mendengar itu, hati saya jadi agak senang. Ternyata kehebatan ekonomi digital pun telah dirasakan oleh tetangga saya sendiri. Meskipun kami hanyalah sekelompok orang kampung biasa.

Kerennya Ekonomi Digital
Pengalaman saya itu hanyalah sebagian kecil dari implementasi ekonomi digital. Masih banyak contoh lain yang bisa menunjukkan betapa ekonomi digital sangat membantu dan memudahkan kita dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya toko online yang memudahkan kita dalam berbelanja tanpa harus ke toko, serta beberapa perusahaan fintech yang menawarkan jasa pinjam uang, investasi, maupun asuransi yang berbasis online. Apalagi dengan dukungan dompet digital, mobile banking, serta teknologi QR Code yang sangat membantu dalam perkembangan ekonomi digital. Di masa yang akan datang, ekonomi digital akan berkembang lebih jauh lagi. Bahkan, saat ini pun sudah ada beberapa contoh implementasi ekonomi digital yang menurut saya sudah seperti teknologi di masa depan. Beberapa di antaranya yaitu:

1.    Scan & Go, Teknologi Supermarket Tanpa Kasir
Scan & Go merupakan aplikasi smartphone yang bisa digunakan ketika berbelanja di supermarket tertentu. Dengan aplikasi ini, kita tidak perlu lagi antri di kasir. Pernah lihat penjaga kasir menscan bar code di barang yang kita beli di supermarket kan? Nah, kalau pakai aplikasi Scan & Go ini, kita bisa menscan sendiri bar code yang ada pada barang yang mau kita beli langsung lewat smartphone kita. Total tagihan akan muncul di aplikasi dan kita bisa membayarnya dengan saldo yang kita miliki. Habis itu kita bisa langsung pergi tanpa antri di kasir terlebih dahulu. Makanya dikasih nama Scan & Go.
Teknologi ini pertama kali diperkenalkan oleh Walmart di Amerika Serikat. Sekarang, teknologi tersebut juga digunakan oleh beberapa perusahaan retail lain seperti Amazon dan Kroger Co. Sayangnya, di Indonesia belum ada yang menerapkan teknologi Scan & Go ini. Padahal teknologi ini cocok dipakai di kota yang sibuk kayak Jakarta. Apalagi orang Indonesia sukanya buru-buru dan ada juga yang hobi serobot antrian orang. Tapi menurut saya, agak resiko juga kalo ini dipakai di Indonesia. Nanti ada yang lupa scan, eh.. tahunya langsung go.

2.    Multi Lane Free Flow, Bayar Tol Ga Perlu Slow
Sering kesel karena antri panjang di gerbang tol? Mungkin ini bisa jadi solusinya. Multi Lane Free Flow (MLFF) merupakan sistem yang memungkinkan kita untuk membayar tol tanpa harus berhenti. Teknologi yang dipakai ada beberapa macam. Salah satunya pakai RFID. Kalau RFID ini kita cuma perlu menempelkan stiker RFID di mobil. Stiker ini akan memancarkan sinyal frekuensi radio. Begitu mobil melewati gerbang tol yang dipasangi alat pembaca RFID, saldo kita akan berkurang secara otomatis untuk membayar tol. Jadi kita benar-benar tidak perlu berhenti di gerbang tol untuk membayar. Gas pooll terus lah pokoknya.
Sistem MLFF sebenarnya bukanlah teknologi baru. Sudah banyak negara lain yang menerapkan sistem ini. Namun, kini Indonesia akan mulai mengejar ketertinggalan dengan menerapkan sistem ini di tahun depan. Ya semoga saja lancar dan jalan tol akan benar-benar bebas hambatan.

3.    TV Commerce
Dulu, pas masih kecil, saya pernah lihat iklan mainan di TV. Karena tertarik, saya pun merengek minta dibelikan mainan itu sama ayah. Namun, ayah meminta saya untuk sabar, sebab belum ada uang. Beliau menjanjikan akan membelikan mainan itu bulan depan. Setelah saya tunggu sebulan, ayah pun akhirnya mengajak saya ke toko mainan. Akan tetapi, lebih dari 3 toko telah kami sambangi, ternyata tidak ada satupun yang menjual mainan itu. Ayah pun membelikan mainan lain sebagai pengganti, tapi saya masih saja cemberut ketika melihat iklan mainan itu di TV. Sekarang saya berpikir seandainya saja saya bisa membeli mainan itu langsung dari tayangan iklannya di TV.
Mungkin kalian sendiri pernah berpikir, seandainya barang yang kita inginkan di TV itu secara ajaib bisa keluar dari layar dan muncul di hadapan kita. Kini, hal tersebut bisa terwujud berkat adanya smart TV, internet, dan uang digital. Kita bisa membeli produk apapun yang tayang di iklan televisi langsung dari perangkat TV kita. Hal ini disebut dengan TV Commerce. Hampir mirip seperti transaksi di toko online. Ketika kita tertarik dengan suatu produk yang tayang pada iklan di TV, kita bisa memesan produk tersebut dengan menekan suatu tombol di remote. Saldo kita akan otomatis terpotong, dan produk yang kita pesan akan dikirimkan ke alamat kita oleh jasa pengiriman.

Mengingat ekonomi digital masih terbilang baru di dunia, maka ke depannya pasti akan terus berkembang dan muncul teknologi, sistem, atau metode baru yang mungkin jauh lebih canggih dan lebih membantu daripada yang telah saya sebutkan. Berdasarkan pertemuan yang dilakukan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) di tahun 2016 lalu, disebutkan bahwa 65% dari jumlah anak-anak yang ada hari ini akan melakukan pekerjaan yang bahkan belum ditemukan saat ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh puas hanya dengan kemajuan di masa kini. Kita harus terus belajar mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal dan tergilas oleh roda zaman yang terus melaju menuju masa depan. Karena #Ecodigi akan menjadi sahabat kita di masa yang akan datang.

Komentar